01. KITA TAK MEMILIKI

Kehidupan kita ini bukan kita yang memiliki. Dunia tempat kita tinggal ini pun bukan kita yang mempunyai. Kita tidak bisa semena-mena dan semau kita dalam menjalaninya. Seperti halnya kematian, kehidupan kita ini bukan milik kita. Sebab, Allah berfirman:

﴾ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am [6]: 162)

﴾وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ ﴿

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah dikembalikan segala urusan. (QS. Ali Imran [3]: 109)

Kita ini milik Allah dan kepada Allah kita akan pulang.

﴾ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿

Sesungguhnya kami ini milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali. (QS. Al-Baqarah [2]: 156)

Karena hidup dan mati kita ini untuk Allah, maka kita harus menjalani kehidupan ini menuruti aturan Allah. Pasalnya adalah bahwa puncak keinginan kita adalah beroleh ridha dan rahmat-Nya sedangkan kita mengetahui dan mempercayai sepenuhnya bahwa aturan Allah adalah yang terbaik untuk kita dan kehidupan kita.

✏ Ustadz Fahrudin Majid, Lc