2-syarat-amalKawan,
Kita masih bicara tentang kewajiban kedua yaitu mengamalkan ilmu.
Perlu kita camkan baik-baik bahws amal harus dilandaskan pada dua perkara:

Pertama: IKHLAS, mengharapkan wajah Allah semata.

Kedua: SESUAI dengan TUNTUNAN Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dalil dari dua syarat di atas disebutkan sekaligus dalam firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110)

Menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah mencatat dalam tafsirnya ;

“Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”,

maksudnya adalah bersesuaian dengan syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dan;

“janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”

Maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Ini adalah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[Tafsir ibnu Katsir 9/205].

Suatu amalan meskipun ikhlas namun bila tidak sesuai dengan tuntunan Nabi, maka tidak akan diterima. Terdapat beberapa hadits yang menegaskan hal ini. Diriwayatkan dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[HR Bukhari dan Muslim].

Dalam riwayat Muslim disebutkan,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Menguraikan hadits di atas, dalam kitab Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 77, Ibnu Rajab Al Hambali berkata, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir) sebagaimana halnya hadits ‘innamal a’malu bin niyat’ [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.”

Jadi, jika kita hendak beramal, tanyakan dulu dua perkara: Pertama, sudah ikhlaskah niat kita? Bila sudah ikhlas, tanya lagi yang kedua: adakah tuntunannya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam?

Bersambung..

✏ Ust. Badrusalam (edited)