04. BAGAI MUSAFIRSeorang musafir yang ingin pulang ke rumahnya tidak boleh terlena dalam perjalanannya. Jika ia singgah di bawah pohon yang rindang dengan mata air jernih di bawahnya ia tidak boleh terlena dan lupa, sebab ia belum sampai rumahnya. Dia harus menyadari sesungguhnya bahwa di bawah pohon rindang itu ia hanya singgah sejenak saja guna mempersiapkan perjalanan pulang yang masih jauh jaraknya untuk di tempuh.

Mari perhatikan dengan seksama sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(( مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا ))

Apa peduliku dengan dunia. Aku di dunia ini tidak lain hanyalah seperti seorang musafir yang berteduh di bawah sebuah pohon kemudian ia pergi dan meninggalkannya.
(HR. At-Tirmidzi no. 2377)

Ini adalah amsal (perumpamaan) tentang kehidupan dunia. Pohon rindang itu adalah dunia. Rentang waktu berteduh di bawah pohon itu adalah masa kita hidup di dunia. Sangat singkat. Jangan terlena di bawah pohon itu, sebab perjalanan pulang masih terlalu jauh untuk ditempuh.

Betapa pun teduh dan indahnya dunia ini, jangan kita terlena. Jika kita tetap terlena di bawah rindang pohon itu kita akan lupa mempersiapkan bekal untuk pulang. Allah berfirman:

﴿ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ ﴾

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
(QS. Al-Baqarah [2]: 197)

✏ Ust. Fahrudin Majid, Lc